PortalBanten – Potensi Banten Selatan sebagai lumbung padi nasional dinilai sangat besar dan sudah terbukti di lapangan. Hamparan sawah yang membentang luas dari Wanasalam hingga Panimbang menjadi penyangga utama produksi beras di Provinsi Banten.
Kabid Prasarana Dinas Pertanian (Distan) Banten, Asep Saepudin, mengungkapkan bahwa kawasan pertanian di Banten Selatan saling terhubung satu sama lain dan memiliki hamparan yang sangat luas.
“Bahkan bukan memungkinkan lagi ya, itu kan sudah terjadi, Banten Selatan itu. Hamparannya sangat luas, dari Wanasalam itu hampir tiga ribu hektare. Wanasalam, terus nyambung lagi ke Cikeusik, Cikeusik, Pandeglang, terus ke sini ke Panimbang, ke Sobang, itu kan nyambung,” ujarnya pada Kamis 15 Oktober 2026.
Menurut Asep, peluang peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di kawasan tersebut sangat tinggi, dari yang sebelumnya hanya satu kali tanam dalam setahun kini berpotensi ditingkatkan hingga tiga kali.
“IP-nya bisa ditingkatkan dari satu sampai dua, bahkan ke tiga kali IP dalam satu tahun. Peluangnya sangat besar,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa sebanyak 83 persen luas baku sawah di Banten berada di kawasan Banten Selatan. Hal ini berbeda dengan wilayah Tangerang yang mengalami banyak alih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan pabrik, sedangkan lahan sawah di bagian selatan masih relatif terjaga.
Untuk menjaga keberlanjutan lahan pertanian, Distan Banten mendorong pemerintah kabupaten/kota memberikan insentif kepada para petani, salah satunya melalui program pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) serta bantuan sarana dan prasarana.
“Perlindungan ya kita memberikan insentif. Kalau di Kabupaten ada program pembebasan biaya PBB. Kita hanya bisa merangkul kabupaten-kota bagaimana lahannya tetap terjaga menjadi sawah,” jelasnya.
Insentif lain yang disalurkan berupa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, power thresher, hingga dryer (pengering gabah). Keberadaan dryer dinilai sangat penting agar petani dapat terus mengeringkan hasil panen terutama pada saat musim hujan.
Terkait penanganan risiko kekeringan, Distan Banten mengedepankan kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian. Sinergi ini telah terbukti saat menangani ancaman kekeringan di Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu melalui pemasangan pompa air untuk menyelamatkan sekitar 400 hektare lahan.
“Kita koordinasi dan kolaboratif dengan BBWS. Kemarin sempat ada kekeringan di Tangerang, BBWS turun untuk penyelamatan tanaman, pasang pompa air,” ujarnya.
Asep pun berpesan agar para petani tetap aktif menanam selama pasokan air tersedia, serta selalu memperkuat koordinasi dengan kelompok tani, penyuluh, hingga pemerintah daerah dan pusat dalam mengantisipasi ancaman bencana.
“Sebetulnya tinggal rajin, petani rajin, air ada tersedia. Kalau sudah ada air terus continue menanam, saya kira petani akan rajin. Untuk bencana, kita tetap koordinatif dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi sampai pusat,” tandasnya.
