PortalBanten – Asosiasi Lembaga Bantuan Hukum Apik Indonesia kembali menggelar forum diskusi yang berjudul “Ngopi Sore: Kepemimpinan Perempuan Dalam Penanggulangan Bencana” pada Rabu 14 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang diskusi strategis bagi kelompok perempuan serta kelompok rentan lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia untuk menyuarakan aspirasi mereka demi perbaikan tata kelola kebencanaan.
Dalam forum tersebut, Dompet Dhuafa hadir sebagai salah satu narasumber untuk membagikan perspektif, pengalaman, serta komitmen lembaga dalam aksi kemanusiaan dan perlindungan kelompok rentan.
Senior Officer Strategic Alliance Dompet Dhuafa, Syamsul Ardiansyah, menjelaskan bahwa acara diskusi yang digelar ini bertujuan untuk membangun ruang silaturahmi di antara kelompok perempuan dan kaum rentan dari berbagai daerah.
“Kegiatan ini diselenggarakan sebagai satu tradisi dari kami dalam rangka mempertemukan kelompok-kelompok perempuan dan kelompok rentan lainnya dari berbagai kalangan di berbagai wilayah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa forum ini menjadi wadah penting untuk menyuarakan gagasan serta aspirasi masyarakat demi perbaikan manajemen bencana nasional.
“Untuk saling berbicara, terkoneksi satu sama lain, membicarakan masalah-masalah penting terkait dengan penanggulangan bencana, dan bagaimana aspirasi mereka dalam konteks upaya untuk memperbaiki tata kelola penanggulangan bencana di Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya, partisipasi peserta dalam acara tersebut sangat tinggi dan berjalan dengan penuh antusiasme.
“Alhamdulillah banyak yang hadir ya, tadi juga antusias, ruangannya penuh,” tuturnya.
Ia pun mendorong agar inisiatif ruang diskusi seperti ini dapat terus direplikasi oleh komunitas lokal di daerah lain, termasuk di Banten.
“Dan kita berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan oleh teman-teman yang ada khususnya di Banten, sehingga tidak hanya di sini, kegiatan dan diskusi ini juga bisa diselenggarakan di tempat-tempat lain dan di kesempatan yang lain,” terangnya.
Terkait penanganan darurat di lapangan, ia menegaskan bahwa kelompok rentan selalu menjadi fokus utama dalam setiap aksi tanggap bencana yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa.
“Mereka adalah kelompok yang paling pertama kali kita akan respon. Jadi kayak setiap kali ada situasi darurat, tentu saja upaya respon pertama kali Dompet Dhuafa adalah akan menyasar pada kalangan yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa komitmen tersebut berlandaskan pada prinsip kemanusiaan yang menjunjung tinggi keadilan dalam menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan nyata para korban.
“Dan ini adalah bagian dari komitmen kami dalam upaya setiap aksi kemanusiaan yang dilandasi oleh prinsip imparsialitas tadi. Yang mana bantuan kemanusiaan selalu diberikan kepada mereka berdasarkan kebutuhannya,” jelasnya.
Di samping itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan publik dan sinergi lintas sektor mengingat penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama.
“Kalau harapan kita tentu saja publik juga mendukung usaha kami ya. Jadi kita sama-sama tahu bahwa bencana itu urusan semua orang, tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu-dua lembaga saja,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat menjamin terpenuhinya hak-hak para korban bencana secara maksimal pada masa-masa sulit mereka.
“Harus ada kolaborasi, koordinasi, dan tentu saja dukungan publik yang luas untuk memastikan masyarakat yang paling membutuhkan mendapatkan hak yang secara optimal dalam situasi di mana barangkali menjadi situasi yang tersulit bagi hidup mereka,” tandasnya.
