PortalBanten – Penguatan konektivitas penerbangan ASEAN-China dinilai menjadi semakin penting di tengah pertumbuhan lalu lintas udara kawasan Asia Pasifik. Garuda Indonesia mengambil peran dalam mendorong penguatan tersebut dengan menjadi Chairman ASEAN-China Airlines Forum 2026 yang digelar di Yogyakarta pada 7-9 Juli 2026.
Forum tersebut mempertemukan 29 maskapai penerbangan dari ASEAN dan China, tiga asosiasi industri penerbangan, operator bandar udara, perusahaan manufaktur pesawat, perusahaan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), serta regulator penerbangan.
Kepercayaan kepada Garuda Indonesia untuk kembali memimpin forum tersebut melanjutkan peran yang sebelumnya diberikan pada penyelenggaraan perdana ASEAN-China Airlines Forum di Labuan Bajo pada 2024.
Peran tersebut menjadi semakin strategis seiring proyeksi Asia Pasifik yang diperkirakan menyumbang sekitar 41 persen pertumbuhan penumpang udara global dalam dua dekade mendatang. Kondisi ini menempatkan konektivitas ASEAN-China sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan jaringan penerbangan internasional.
ASEAN-China Airlines Forum merupakan forum strategis lintas kawasan yang mempertemukan maskapai, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan sektor penerbangan dari negara-negara ASEAN dan China.
Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian 17th ASEAN-China Working Group on Regional Air Services Arrangements (ACWG-RASA) yang mempertemukan perspektif industri dengan pembahasan kebijakan penerbangan antarnegara.
Sebagai Chairman, Garuda Indonesia memfasilitasi penyusunan rekomendasi bersama industri dan pemangku kepentingan untuk menjadi masukan dalam pembahasan kebijakan penerbangan antara pemerintah negara-negara ASEAN dan China.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk menerjemahkan berbagai tantangan operasional dan pengembangan konektivitas menjadi agenda kolaborasi yang konkret.
Direktur Transformasi Garuda Indonesia, Neil Raymond Mills, mengatakan pertumbuhan pasar penerbangan Asia Tenggara perlu diikuti kesiapan kapasitas, infrastruktur, regulasi, dan ekosistem industri yang semakin terintegrasi.
“Proyeksi lalu lintas penumpang udara Asia Pasifik yang tumbuh berkelanjutan tersebut menunjukkan besarnya potensi kawasan ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri penerbangan dunia. Momentum tersebut perlu dijawab melalui kolaborasi yang semakin konkret agar pertumbuhan permintaan dapat didukung oleh konektivitas, kapasitas, infrastruktur, dan kebijakan yang memadai,” ujar Neil.
Menurutnya, posisi Garuda Indonesia sebagai Chairman juga menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai hambatan konektivitas serta merumuskan agenda yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing industri penerbangan regional.
“Melalui peran sebagai Chairman ASEAN-China Airlines Forum 2026, Garuda Indonesia mendorong identifikasi berbagai hambatan konektivitas, merumuskan agenda yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing industri penerbangan regional, serta penyelarasan perspektif antara pelaku industri dan regulator,” jelasnya.
Dari forum tersebut lahir sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari peningkatan fleksibilitas operasional melalui penyederhanaan pengelolaan slot penerbangan, harmonisasi regulasi MRO lintas negara, dukungan terhadap pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), fasilitasi visa dan konektivitas menuju kota-kota sekunder, hingga penguatan koordinasi antara regulator dan industri.
Rekomendasi tersebut selanjutnya menjadi masukan industri dalam rangkaian pembahasan ACWG-RASA antara pemerintah negara-negara ASEAN dan China.
Dengan demikian, forum tidak hanya menjadi ruang pertukaran pandangan, tetapi juga menjadi penghubung antara kebutuhan industri dan proses pengembangan kebijakan penerbangan lintas negara.
Neil menilai penguatan konektivitas ASEAN-China tidak cukup hanya mengandalkan penambahan kapasitas penerbangan. Pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan pengelolaan slot yang lebih fleksibel, kemudahan perjalanan lintas negara, kapasitas bandar udara dan armada yang memadai, dukungan ekosistem MRO, serta harmonisasi regulasi.
“Hal-hal tersebut menjadi fondasi penting untuk membuka peluang pengembangan rute, peningkatan frekuensi penerbangan, dan perluasan kerja sama industri antara ASEAN dan China,” tegasnya.
Penguatan konektivitas ASEAN-China juga dinilai memiliki dampak lebih luas terhadap mobilitas masyarakat, pariwisata, perdagangan, investasi, logistik, e-commerce, hingga pengembangan rantai pasok regional.
“Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Garuda Indonesia sebagai Chairman menjadi bagian dari kontribusi Perusahaan yang lebih luas terhadap pengembangan industri penerbangan regional. Termasuk, mencerminkan komitmen Perusahaan untuk terus mengambil peran aktif dalam membangun konektivitas ASEAN-China yang semakin kompetitif, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan ekosistem penerbangan global,” tandas Neil.
SEO Description
Garuda Indonesia mendorong penguatan konektivitas ASEAN-China melalui forum regional dengan rekomendasi harmonisasi regulasi dan kolaborasi industri.

