Bebas Listing Fee, Indomaret Buka Akses Pasar Bagi Pelaku UMKM Lokal

/


PortalBanten – PT Indomaret mendorong penguatan daya saing Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk dapat menembus rantai pasok ritel modern. Langkah ini disampaikan dalam ajang Karya Kreatif Banten (KKB) x Banten Investment Forum (BIF) 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten bersama Pemerintah Provinsi Banten di Tangerang Selatan.

Project Executive Indomaret, Purwanto Wahyudi, yang hadir sebagai narasumber menyampaikan bahwa pihak ritel modern secara aktif berkolaborasi dengan instansi pemerintah untuk memfasilitasi temu bisnis (business matching) bagi para pelaku usaha lokal.

“Kami selalu diundang ke mana-mana. Hari ini ada dengan BI, besok ada dengan Kementerian Perdagangan, ada Kementerian UMKM untuk delapan business matching dari para UMKM,” ujarnya. 

Ia menjelaskan bahwa kemitraan dengan jaringan ritel modern membawa dampak positif bagi perkembangan usaha lokal, salah satunya adalah peningkatan kredibilitas merek dan jangkauan pemasaran yang lebih luas.

“Peluang kemitraannya dengan mitra ritel modern adalah peningkatan citra, itu yang paling pertama. Jadi produk yang akan masuk ke pasar modern itu akan menambah citra produk. Lalu yang kedua sama, akses pasar,” paparnya. 

Ia menuturkan, masuknya produk ke jaringan ritel modern juga memberikan kepastian pasar serta kestabilan pasokan bagi para produsen.

“Lalu stabilisasi permintaan. Nah, ini yang Bapak, Ibu perlu catat dengan baik bahwa akan terbentuk permintaan yang stabil terus apabila memang salah satunya masuk ke DC (Distribution Center). Akan ada jadwal PO yang rutin, mau seminggu sekali, seminggu dua kali, seminggu tiga kali tergantung tingkat perputaran produk. Semakin laku, akan semakin sering kita melakukan purchase order,” terangnya.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang kerap ditemui di lapangan berada pada tingkat pelaku usaha mikro, terutama menyangkut konsistensi mutu dan pemenuhan legalitas usaha.

“Tantangan yang mulai pertama adalah standardisasi produk. Nah, ini memang yang masih menjadi kendala terutama adalah UMKM yang masih mikro. Jadi konsistensi itu kemasan yang menarik, kadang-kadang sertifikasi halal atau apa pun itu masih harus didampingi terus karena memang masih sebatas bisa membuat produk, belum memperhatikan bagaimana umur produk, umur simpan, dan segala macam,” jelasnya.

Ia pun memperingatkan pentingnya pemenuhan syarat kelayakan edar serta sertifikasi halal yang kini menjadi regulasi wajib bagi seluruh produk konsumsi.

“Persyaratan sebelum registrasi, kami akan melihat legalitasnya. Mandatory dua hal yang sekarang ini tidak bisa ditoleransi adalah: satu, izin edar, kalau itu masih mikro berarti boleh pakai P-IRT, tapi kalau kita mau keluar ke daerah lain harus diubah ke BPOM. Lalu yang kedua adalah sertifikasi halal,” paparnya.

Di samping pemenuhan legalitas, aspek akurasi informasi produk pada kemasan seperti keterangan berat bersih (gramasi) turut menjadi perhatian utama demi menjaga kepercayaan konsumen.

“Yang perlu saya sampaikan adalah pentingnya adalah jujur. Jujur di sini adalah terutama di gramasi. Jangan sampai Bapak, Ibu mencantumkan gramasi 100 gram, ditimbang ternyata cuma 95 gram. Ini akan menjadi masalah. Konsumen saat ini adalah kritis sekali dan itu akan menjadi masalah dan akan mudah viral. Hati-hati di sini, jadi betul-betul harus jujur,” tegas Purwanto.

Mengenai skema kerjasama bisnis, ia menegaskan bahwa Indomaret berkomitmen memberikan kemudahan bagi UMKM dengan menghapus biaya pendaftaran (listing fee) serta meniadakan sistem konsinyasi.

“Perlu saya sampaikan, kami di Indomaret memakai peraturan dari pemerintah bahwa Indomaret tidak memberlakukan listing fee untuk UMKM. Syarat pembayarannya adalah 14 hari, Indomaret tidak mengenal konsinyasi. Jadi Bapak, Ibu mengirim 100, akan dibayar 100 dengan jangka waktu pembayaran,” ungkapnya.

Untuk pengiriman barang, Indomaret memberikan opsi fleksibel menyesuaikan dengan kapasitas dan skala usaha para mitra UMKM.

“Ada dua mekanisme pengiriman ke Indomaret. Yang pertama adalah barang dikirim langsung, itu adalah untuk UMKM yang memang masih baru. Tapi kalau sudah naik kelas, itu nanti bisa masuk ke DC untuk didistribusikan ke seluruh toko Indomaret,” tambahnya. 

Sebagai penutup, ia menekankan bahwa keberhasilan UMKM di jaringan ritel tidak hanya diukur dari masuknya produk ke rak toko, melainkan dari adanya tingkat pembelian ulang (repeat sales) dan pengembangan usaha yang berkelanjutan.

“Kunci sukses ini adalah rangkuman dari pengalaman saya seluruh Indonesia. Pertama adalah fokus ke produk dulu Bapak, Ibu sekalian. Jangan sampai mudah untuk mengganti produk karena sebenarnya dalam satu produk masih perlu ada yang namanya riset dan pengembangan. Jangan sampai produk dijual kurang bagus, balik lagi dibenerin, bolak-balik bolak-balik pasti akan costly banget. Lalu patuh terhadap standar pangan, mampu melihat pasar, dan buatlah dengan desain yang menarik,” tandasnya. 

Ajang KKB x BIF 2026 sendiri diselenggarakan sebagai wadah sinergi strategis antara pemerintah, perbankan, dan pelaku industri untuk mendorong pelaku usaha daerah naik kelas serta memperluas jaringan investasi regional.