Tekan Biaya Produksi, Petani Serang Dilatih Buat Pupuk dan Pestisida Organik Mandiri

/


PortalBanten – PT Pegadaian melalui Kantor Wilayah (Kanwil) IX Jakarta realisasikan program The Gade Integrated Farming (TGIF) untuk mendorong kemandirian petani di Kabupaten Serang. Program ini menyasar penguatan kapasitas petani melalui pertanian terpadu berbasis bahan organik, mulai dari pembuatan pupuk hingga pestisida nabati.

Program yang menggandeng Forum Tani Organik Terpadu Indonesia (FORTEGIF) tersebut diawali dengan Workshop Penguatan Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kelompok Tani Tunas Mekar Terpadu, Desa Sukajadi, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Selasa 13 Oktober 2026.

Didukung melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pegadaian, kegiatan ini berlangsung selama tiga hari. Petani dibekali keterampilan membuat pupuk organik, nutrisi tanaman, pestisida nabati, hingga pembenah tanah dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari pelatihan yang terlaksana. Pendampingan selama enam bulan ke depan menjadi tahap penting untuk membuktikan apakah metode yang diperkenalkan benar-benar mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil pertanian.

Sekretaris Jenderal FORTEGIF, Baharudin Rahman, menyampaikan bahwa program TGIF dirancang untuk mengubah pola pikir petani agar tidak terus bergantung pada sarana produksi pertanian yang membutuhkan biaya tinggi.

“Bertani itu tidak perlu mahal. Sebetulnya sederhana, yang membuat tidak sederhana adalah para pelaku petaninya. Bagaimana supaya melalui pertanian ini kita bisa menghasilkan produk yang sehat,” ujarnya.

Menurutnya, pertanian organik menjadi salah satu pendekatan untuk membangun sistem pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan, sekaligus mendorong petani memanfaatkan sumber daya lokal yang selama ini belum dioptimalkan.

Ia menjelaskan, pelatihan tiga hari tersebut merupakan tahap awal dari program pendampingan yang direncanakan berlangsung selama enam bulan. Dalam periode itu, FORTEGIF akan memantau perkembangan kemampuan petani, biaya produksi, serta hasil pertanian secara berkala.

“Kalau mindset tidak berubah, petani tidak akan berubah. Karena itu, pertama kita berikan edukasi tentang mengapa harus bertani selaras alam. Setelah itu, petani dilatih membuat sendiri kebutuhan pertaniannya, mulai dari pembenah tanah, nutrisi tanaman, pupuk, pestisida, hingga fungisida,” ujarnya.

ia juga menegaskan, kebutuhan pertanian tersebut dapat dipenuhi dengan memanfaatkan potensi lokal, seperti sampah organik dan rerumputan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui pendekatan tersebut, petani diharapkan tidak hanya menjadi konsumen sarana produksi pertanian, tetapi juga mampu menghasilkan sendiri sebagian besar kebutuhan budidayanya.

Pendampingan Enam Bulan Jadi Tolok Ukur

FORTEGIF menyatakan keberhasilan program TGIF akan dievaluasi melalui pendampingan rutin selama enam bulan. Evaluasi tidak hanya mencakup penerapan materi pelatihan, tetapi juga perkembangan biaya operasional atau biaya pokok produksi (BOP) dan hasil panen.

“Kami dampingi selama enam bulan, setiap bulan ada pendampingan. Kita lihat bagaimana biaya produksinya, apakah turun atau meningkat, kemudian hasilnya juga dievaluasi. Tujuannya supaya petani betul-betul mandiri nantinya,” ujarnya.

Evaluasi tersebut menjadi penting untuk melihat apakah pembuatan pupuk, nutrisi tanaman, dan pestisida secara mandiri benar-benar memberikan dampak terhadap pengeluaran petani.

Sebab, penggunaan bahan organik tidak serta-merta menjamin penurunan biaya maupun peningkatan hasil panen. Penerapannya tetap membutuhkan keterampilan, ketersediaan bahan baku, dan pengawasan agar sesuai dengan kebutuhan tanaman serta kondisi lahan.

Setelah pelatihan dan pendampingan berjalan, program akan dilanjutkan dengan pembuatan demplot atau lahan percontohan sebagai ruang praktik bersama. Selanjutnya, direncanakan kegiatan kick-off berupa panen bersama yang melibatkan PT Pegadaian dan dinas terkait.

Baharudin berharap TGIF tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi model pemberdayaan petani yang berkelanjutan.

Keberlanjutan program dan perkembangan kelompok tani selama enam bulan pertama juga akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan dukungan lanjutan.

Pegadaian Siapkan Shelter Pupuk dan Sarana Pertanian

Selain pelatihan dan pendampingan, program TGIF diarahkan pada penyediaan sarana pendukung untuk memperkuat kegiatan pertanian kelompok tani.

Ia menyampaikan bahwa salah satu fasilitas yang direncanakan adalah shelter atau tempat produksi pupuk organik komunal. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat produksi pupuk yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani.

Dukungan lainnya mencakup traktor tangan atau hand tractor yang telah disalurkan sebelum kegiatan pelatihan. Sementara itu, bantuan peralatan dan sarana pertanian tambahan akan diberikan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan program.

“Yang pertama kita berikan edukasi dan sosialisasi. Kemudian kita bangunkan shelter untuk tempat pembuatan pupuk, termasuk dukungan traktor. Untuk kebutuhan lainnya akan bertahap, kita lihat perkembangan selama enam bulan dulu,” tandasn

Menurut Baharudin, apabila kelompok tani menunjukkan perkembangan positif dan mampu menjalankan program secara konsisten, dukungan berikutnya berpeluang mencakup sarana pendukung lain, seperti ternak domba atau sapi, serta peralatan pertanian tambahan.

Skema bertahap tersebut diharapkan memastikan bantuan tidak hanya tersedia, tetapi juga dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh kelompok tani.

Penyuluh Pertanian Dorong Sinergi dengan Program Modernisasi

Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Kragilan, Sigit Sudarminto, menyambut baik keterlibatan PT Pegadaian dalam pengembangan sektor pertanian di Desa Sukajadi.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat kapasitas petani sekaligus meningkatkan produksi pertanian di Kecamatan Kragilan.

Menurutnya, penerapan metode pertanian Selaras Alam yang terintegrasi memiliki relevansi dengan program Pertanian Modern atau Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian.

Pemanfaatan bahan organik dinilai berpotensi membantu petani mengurangi pengeluaran untuk sarana produksi, terutama apabila bahan baku pupuk dapat diperoleh dan diolah secara mandiri.

Meski demikian, hasil penerapan metode tersebut tetap perlu diukur melalui pendampingan berkelanjutan dan evaluasi di tingkat petani. Efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas menjadi aspek penting untuk memastikan metode yang diperkenalkan sesuai dengan kebutuhan pertanian setempat.

Sementara itu, Kepala Departemen Non Gadai Kanwil IX Jakarta PT Pegadaian, Isnaningsih, menegaskan bahwa pelatihan TGIF diharapkan memberikan manfaat nyata bagi petani.

Ia meminta peserta memanfaatkan pelatihan selama tiga hari secara maksimal. Program tersebut dirancang untuk membangun kapasitas petani melalui pendekatan terpadu dari hulu hingga hilir.

Dalam kegiatan itu, Isnaningsih juga menyerahkan modul pelatihan pertanian Selaras Alam kepada Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Kragilan, Sigit Sudarminto. Penyerahan tersebut disaksikan perwakilan Pegadaian Cabang Serang, Susanti selaku Kabag TJSL Kanwil IX Jakarta, serta jajaran FORTEGIF.

Sigit kembali menegaskan bahwa keterlibatan Pegadaian diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dan meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Sukajadi.

Ia juga menilai pendekatan pertanian Selaras Alam berpeluang bersinergi dengan program pertanian modern yang mendorong efisiensi biaya produksi dan pemanfaatan bahan organik.

Melalui TGIF, PT Pegadaian bersama FORTEGIF berharap Kelompok Tani Tunas Mekar Terpadu mampu membangun pola pertanian yang lebih efisien, menghasilkan produk sehat, serta mengurangi ketergantungan pada pasokan sarana produksi dari luar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program ini bukan sekadar terselenggaranya pelatihan, tersedianya shelter pupuk, atau tersalurkannya bantuan alat pertanian. Hal yang lebih mendasar adalah apakah petani benar-benar mampu menekan biaya produksi, mempertahankan produktivitas, dan mengelola kebutuhan budidaya secara mandiri.

Pendampingan enam bulan ke depan akan menjadi ujian awal bagi program tersebut. Hasil evaluasi di lapangan diharapkan dapat menunjukkan sejauh mana pertanian terpadu yang diperkenalkan mampu memberikan manfaat konkret bagi petani Kabupaten Serang.